MAKALAH
METODELOGI PEMBELAJARAN
AGAMA ISLAM
MAKALAH
METODELOGI PEMBELAJARAN
AGAMA ISLAM
Tentang
KRITERIA PEMILIHAN METODE DAN
KETERAMPILAN PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM

Oleh
Kelompok 8
Adelina Sari Pohan : 412.390
Rahmat Ilahi : 412.560
Dosen
Pembimbing:
Drs. Basyirudin Usman, M. Pd
Weti Susanti, S. Pd. I,
MA
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI-C)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1436 H/2014 M
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya, sehingga pemakalah dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah
ini dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca.
Harapan
pemakalah semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
bara pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik. Dalam Makalah ini pemakalah akui banyak
kekurangan, oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Padang, 29 September 2014
Pemakalah
|
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Proses belajar dewasa ini menuntut seorang guru
memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut
menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan muridnya. Metode merupakan hal
yang lebih penting dari materi yang akan diajarkan. Di sini seorang guru harus
memilih cara yang efektif dan efisien dalam mentransformasi dan mengembangkan
pengetahuan muridnya dan metode dalam pembelajaran agama Islam adalah cara yang
efektif dan efisien dalam mengajarkan agama Islam itu sendiri. Pengajaran yang
efektif artinya pengajaran yang dapat dipahami murid secara sempurna, dalam hal
ini ialah pengajaran yang berfungsi pada murid. “Berfungsi” artinya menjadi
milik murid, pengajaran itu membentuk dan mempengaruhi pribadinya. Adapun
pengajaran cepat adalah pengajaran yang tidak memerlukan waktu yang lama,
artinya pengajaran tersebut difasilitasi alat–alat pembelajaran yang dapat
mempermudah pemahaman murid terhadap materi yang diajarkan.
Agar metode yang digunakan terasa nyaman, menyenangkan
di dalam proses pembelajaran dan membuat para murid selalu bersemangat untuk
mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), seorang guru (PAI)
haruslah memiliki dasar-dasar pertimbangan sebelum menggunakan suatu metode.
Makalah ini membahas dasar-dasar pertimbangan ketika akan memilih suatu metode
di dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.
B. Batasan
Masalah
1.
Kriteria Pemilihan Metode dalam Pengajaran Agama Islam
2.
Keterampilan dalam
mengajar
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kriteria Pemilihan Metode dalam Pengajaran Agama Islam
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan seorang guru
di dalam menggunakan suatu metode pembelajaran, yaitu; tujuan, peserta didik,
bahan pelajaran, fasilitas, situasi, partisipasi, guru, kebaikan dan kelemahan metode
tertentu. Sama halnya dengan faktor di atas, Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar mengatakan
bahwa ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan mengaplikasikan
metode pengajaran:
1.
Tujuan yang
hendak dicapai [1]
Setiap orang yang mengerjakan sesuatu haruslah mengetahui
dengan jelas tentang tujuan yang hendak dicapainya. Demikian juga setiap
pendidik atau guru yang pekerjaan pokoknya mendidik dan mengajar harus mengerti
dengan jelas tentang tujuan pendidikan. pengertian akan tujuan pendidikan ini
mutlak perlu sebab tujuan itulah yang menjadi sasaran dan dan menjadi pengarah
daripada tindakan-tindakanya dalam menjalan fungsinya sebagai guru disamping
menjadi sasaran dan menjadi pengarah, tujuan pendidikan dan pengajaran juga
berfungsi sebagai pemilihan dan penentuan alat-alat (termasuk metode) yang
digunakan dalam mengajar.
2.
Peserta Didik.
Para peserta didik merupakan faktor yang tak kalah
penting yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam memilih metode mengajar. Ini
sebab metode mengajar itu ada yang menuntut pengetahuan dan kecekatan tertentu
misalnya; metode diskusi menuntut pengetahuan yang cukup banyak supaya pesarta
diskusi dapat mengetahui serta menilai benar atau salahnya suatu pendapat yang
dikemukakan peserta lain dan penguasaan bahasa serta keterampilan dalam mengemukakan
pendapat. Menurut Basyiruddin Usman, perbedaan karakteristik siswa dipengaruhi
oleh latar belakang kehidupan sosial ekonomi, budaya, tingkat kecerdasan, dan
watak mereka yang berlainan antara satu dengan yang lainnya, menjadi
pertimbangan guru dalam memilih metode apa yang baik digunakan.[2]
Semakin tinggi jenjang pendidikan peserta didik semakin
sederhana metode yang kita gunakan. Sebaliknya semakin rendah jenjang
pendidikan peserta didik semakin bervariasi metode yang digunakan. Untuk
pendidikan dasar lebih diutamakan metode yang melibatkan psikomotorik dan
afektif (seperti demonstrasi, simulasi, peragaan, kerja praktik dan
sejenisnya), sedangkan pada pendidikan tinggi lebih diutamakan metode yang
melibatkan aspek kognitif (diskusi, seminar, studi kasus, dll). Namun tidak
menutup kemungkinan setiap metode digunakan di semua jenjang pendidikan
3.
Bahan Pelajaran.
Bahan pelajaran yang menuntut kegiatan penyelidikan oleh
peserta didik hendaklah disajikan melalui metode unit/metode proyek. Apabila
bahan pelajaran mengandung problem-problem harus disajikan melalui
metode-metode pemecahan masalah. Bahan pelajaran yang berisi fakta-fakta dapat
disajikan misalnya melalui metode ceramah, sedangkan bahan pelajaran yang
terdiri dari latihan-latihan misalnya keterampilan–keterampilan disajika
melalui metode drill, dan sebagainya.
Jenis materi pelajaran (kognitif, psikomotorik, afektif),
setiap guru terlebih dahulu harus mengenali kecenderungan materi yang akan
diajarkan, metode materi yang cinderung dominan pada kognitif akan berbeda
dengan metode materi yang dominan pada psikomotorik dan afektif.
4.
Fasilitas
Yang termasuk dalam faktor fasilitas ini antara lain
adalah praga, ruang waktu, buku-buku, perpustakaan, kerapatan tempat dan
alat-alat praktikum, fasilitas ini turut menentukan metode mangajar yang akan
di pakai oleh guru. Pengaruh fasilitas dan pemilihan serta penentuan metode ini
ternyata dalam situasi di mana metode Demonstrasi dan Ekperimen tidak dapat
dipakai karena tidak tersedianya alat-alat dan bahan-bahan untuk mengadakan
demontrasi dan eksperimen /percobaan.
Dalam proses pembelajaran, lingkungan fisik dalam kelas
dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif. Di sini guru dapat
mengubah tata letak bangku dan meja agar proses pembelajaran lebih menyenangkan
dan menantang, suatu tata letak bangku yang beda dari biasanya akan akan
membantu siswa dalam mengingat materi yang diajarkan pada saat itu. Melvin L
Silberman memberikan beberapa contoh tata-letak kursi dan meja yang dapat
dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran aktif, seperti; bentuk U, gaya
tim, meja konferensi, lingkaran, kelompok pada kelompok, ruang kerja,
pengelompokan berpencar
formasi tanda
pangkat, ruang kelas tradisional dan auditorium.
Sekolah yang memiliki peralatan dan media yang lengkap,
gedung yang baik, dan sumber belajar yang memadai akan memudahkan guru dalam
memilih metode yang bervariasi.
5.
Situasi
Yang termasuk dalam situasi disini ialah keadaan peserta
didik (yang menyangkut kelelahan mereka, semangat mereka) keadaan cuaca,
keadaan guru, keadaan kelas yang berdekatan yang diberikan pelajaran dengan
metode tertentu.
Terdapat beberapa saran di dalam memperkaya situasi atau
lingkungan kelas, yaitu: 1. dengan memperkaya kelas dengan warna dan 2. Dengan
memberikan wangi-wangian/ aroma. Menurut Morton Walker dalm bukunya The
Power of Color (1991), menegaskan bahwa setiap warna memiliki panjang
gelombang, dari ultraviolet hingga inframerah (atau merah hingga biru) dapat
mempengaruhi tubuh dan otak kita secara berbeda. Contoh warna biru dapat
memberikan ketenangan, meningkatkan perasaan nyaman. Dan begitu juga dengan
aroma, Dave Maier mengatakan wewangian benar-benar dapat berpengaruh positif
pada pemrosesan mental, contohnya kayu manis dapat menambah kegembiraan dan
kebaikan. Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk menambah kenyamanan,
keasyikan belajar di dalam kelas maupun di luar kelas.
6.
Partisipasi
Paritsipasi adalah turut aktif dalam suatu kejadian.
Apabila guru ingin agar peserta didik turut aktif sama merata dalam suatu
kegiatan, guru tersebut tentunya akan menggunakan metode kerja
kelompok/demikian pula apabila peserta didik di kehendaki turut berpartisipasi
dalam suatu kegiatan ilmiah, misalnya mengumpulkan data yang kemudian disajikan
dalam pembahasan ilmiah maka tentunya guru akan menggunakan metode unit atau
metode seminar.
Dalam pembelajaran aktif partisipasi siswa sangat
diperlukan ada beberapa cara untuk menyusun diskusi dan mendapatkan respon dari
siswa pada saat kapan saja selama pelajaran, yaitu ; diskusi terbuka, kartu
jawaban, jejak-pendapat, diskusi sub kelompok, mitra belajar, penyemangat,
panel, ruang terbuka, permainan dan memanggil acara selanjutnya.
7.
Guru
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses
belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya
manusia yang potensial di bidang pembangunan. Di dalam metode mengajar, guru
dituntut untuk memenuhi syarat-syarat yang perlu dipenuhi misalnya tiap guru
yang akan menggunakan metode tertentu ia harus mengerti tentang metode tersebut
(misalnya jalannya pengajaran serta kebaikan dan kelemahannya, situasi-situasi
yang tepat dimana metode itu efektif dan wajar) dan terampil menggunakan metode
itu. Guru yang bahasanya kurang baik (kurang dapat berbahasa lisan dengan baik)
dan tidak bersemangat dalam berbicara kurang pada tempatnya apabila
mengguanakan metode ceramah. Guru yang tidak mengetahui seluk beluk tentang
metode proyek, tentang metode unit, tidak akan memili metode tersebut dalam
menyajikan bahan pelajaran.
Dari apa yang disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwa
pribadi, pengetahuan, dan kecekatan guru amat menentukan metode mengajar yang
akan di gunakan. Kemampuan dasar guru amat mempengaruhi proses belajar
mengajar.
8.
Kebaikan dan
Kelemahan
Tidak ada satu metode yang baik untuk setiap tujuan dalam
setiap situasi. Setiap metode mempunyai kelemahan. Guru perlu mengetahui kapan
suatu metode tepat di gunakan dan kapan harus digunakan dan kapan harus
digunakan kombinasi dari metode-metode. Guru hendaknya memilih metode yang
paling banyak mendatangkan hasil.[3]
B.
Beberapa Keterampilan dalam Mengajar
Guru merupakan
sosok yang digugu dan ditiru, begitulah falsafah yang sering kita dengar.
Program kelas tidak akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan.
Untuk itu, peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin
pendidikan diantara murid-murid suatu kelas. Secara etimologi atau dalam arti
sempit, guru yang berkewajiban mewujudkan suatu program kelas adalah orang yang
kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau kelas.
Secara lebih
luas, guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran
yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak untuk mencapai kedewasaan
masing-masing dalam berpikir dan bertindak. Guru dalam pengertian terakhir
bukan sekedar orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi
pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus ikut
aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak
didik nya menuju sebuah cita-cita luhur mereka. Untuk mencapai hal tersebut
diatas maka dibutuhkan keterampilan-keterampilan dasar seorang guru dalam
mengajar.
8 Keterampilan
Dasar Mengajar yang Wajib Dikuasai Guru yaitu:
1.
Keterampilan Menjelaskan
Adalah suatu
keterampilan menyajikan bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis
sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga mudah dipahami para peserta
didik.[4]
Prinsip-prinsip
menjelaskan
a. Penjelasan harus disesuaikan dengan
kemampuan dan karakteristik peserta didik
b. Penjelasan harus diselingi tanya
jawab
c. Materi penjelasan harus dikuasai
secara baik oleh guru
d. Penjelasan harus sesuai dengan
tujuan pembelajaran
e. Materi penjelasan harus bermanfaat
dan bermakna bagi peserta didik
f. Dapat menjelaskan harus disertai
dengan contoh-contoh yang kongkrit dan dihubungkan
dengan kehidupan
2.
Keterampilan Menggunakan Variasi
a.
Pengertian penggunaan variasi merupakan keterampilan guru
dalam menggunakan bermacam kemampuan untuk mewujudkan tujuan belajar peserta
didik sekaligus mengatasi kebosanan dan menimbulkan minat, gairah dan aktivitas
belajar mengajar yang efektif.
b.
Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar
adalah untuk :
1) Menghilangkan kejemuan dalam
mengikuti proses belajar
2) Mempertahankan kondisi optimal
belajar
3) Meningkatkan perhatian dan motivasi
peserta didik
4) Memudahkan pencapaian tujuan
pengajaran
Prinsip-prinsip penggunaan variasi
dalam pengajaran
1) Gunakan variasi dengan wajar, jangan
dibuat-buat
2) Perubahan satu jenis variasi ke
variasi lainnya harus efektif
3) Penggunaan variasi harus direncakan
dan sesuai dengan bahan, metode, dan karakteristik peserta didik[5]
3.
Keterampilan Memberi Penguatan
a.
Memberi penguatan atau reincorcement merupakan tindakan atau
respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya
peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain.
b. Tujuan menggunakan keterampilan
memberi penguatan dalam pengajaran untuk :
1) Menimbulkan perhatian peserta didik
2) Membangkitkan motivasi belajar
peserta didik
3) Menumbuhkan kemampuan berinisiatif
secara pribadi
4) Merangsang peserta didik berfikir
yang baik
5) Mengembalikan dan mengubah sikap
negatif peserta dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar
Prinsip-prinsip penguatan
1) Dilakukan dengan hangat dan semangat
2) Memberikan kesan positif kepada
peserta didik
4.
Keterampilan Membuka dan Menutup
Pelajaran
Keterampilan
membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik
agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran peserta didik
harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan
ditempuh.
Keterampilan
menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam mengakhiri kegitan inti
pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran,
mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guna dalam
proses belajar mengajar.
Tujuan
membuka dan menutup pelajaran adalah :
a. Untuk menimbulkan minat dan
perhatian peserta didik terhadap pelajaran yang akan dibicarakan
b. Menyiapkan mental para peserta didik
agar siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan
c. Memungkinkan peserta didik
mengetahui tingkat keberhasailan dalam pelajaran
d. Agar peserta didik mengetahui
batas-batas tugasnya yang akan dikerjakan
Prinsip-prinsip membuka dan menutup
pelajaran
Dalam
membuka pelajaran harus memberi makna kepada peserta didik, yaitu dengan
menggunakan cara-cara yang relevan dengan tujuan dan bahan yang akan
disampaikan
5.
Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil
dan Perseorangan
Keterampilan
mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru melayani kegiatan peserta didik
dalam belajar secara kelompok dengan jumlah peserta didik berkisar antara 3
hingga 5 orang atau paling banyak 8 orang untuk setiap kelompoknya.
Sedangkan
keterampilan dalam pengajaran perorangan atau pengajaran individual adalah
kemampuan guru dalam mennetukan tujuan, bahan ajar, prosedur dan waktu yang
digunakan dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau
perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
Tujuan
guru mengembangkan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah :
a. Keterampilan dalam pendekatan
pribadi
b. Keterampilan dalam mengorganisasi
c. Keterampilan dalam membimbing
belajar
d. Keterampilan dalam merencakan dan
melaksanakan KBM[6]
6.
Keterampilan Mengelola Kelas
Keterampilan
mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam mewujudkan dan mempertahankan
suasana belajar mengajar yang optimal Tujuan dari pengelolaan kelas adalah :
a. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas
yang memungkinkan peserta didik memgembangkan kemampuannya secara optimal
b. Menghilangkan berbagai hambatan dan
pelanggaran disipilin yang dapat merintangi terwujudnya interaksi belajar
mengajar
c. Mempertahankan keadaan yang stabil
dalam susana kelas, sahingga bila terjadi gangguan dalam belajar mengajar dapat
dikurangi dan dihindari
d. Melayani dan membimbing perbedaan
individual peserta didik
e. Mengatur semua perlengkapan dan
peralatan yang memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan
sosial, emosional dan intelektual peserta didik dalam kelas.
Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas
a. Keluwesan, digunakan apabila guru
mendapatkan hambatan dalam perilaku peserta didik, sehingga guru dapat merubah
strategi mengajarnya
b. Kehangatan dan keantusiasan
c. Bervariasi, gunakan variasi dalam
proses belajar mengajar
d. Tantangan, gunakan kata-kata,
tindakan atau bahan sajian yang menantang
e. Tanamkan displin diri, selalu
mendorong peserta didik agar memiliki disipin diri
f. Menekankan hal-hal positif,
memikirkan hal positif dan menghindarkan konsentrasi pada hal negatif
Komponen Keterampilan Pengelolaan
Kelas
a. Keterampilan yang bersifat preventif
guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara :
1) Memusatkan perhatian
2) Menunjukkan sikap tanggap
3) Menegur
4) Membagi perhatian
5) Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
6) Memberi penguatan
b. Keterampilan megelola kelas yang
bersifat represif, guru dapat menggunakan keterampilan dengan cara :
1) Pengelolaan kelompok
2) Modifikasi tingkah laku
3) Menemukan dan memecahkan tingkah
laku yang menimbulkan masalah
Hal-hal
yang harus dihindari dalam mengembangkan keterampilan mengelola kelas :
1) Ketidaktepatan memulai dan
mengakhiri kegiatan
2) Pengulangan penjelasan yang tidak
perlu
3) Penyimpangan
4) Kesenyapan
5) Bertele-tele
7.
Keterampilan membimbing Diskusi
Kelompok kecil
a. Diskusi kelompok kecil adalah suatu
proses belajar yang dilakukan dalam kerja sama kelompok bertujuan memecahkan
suatu permasalahan, mengkaji konsep, prinsip atau kelompok tertentu.
b. Prinsip-prinsip membimbing diskusi
kelompok kecil :
1) Laksanakan diskusi dalam suasana
yang menyenangkan
2) Berikan waktu yang cukup untuk
merumuskan dan menjawab permasalahan
3) Rencanakan diskusi kelompok dengan
sistematis
4) Bimbinglah dan jadikanlah diri guru
sebagai teman dalam diskusi
Komponen
keterampilan guru dalam megembangkan pembimbingan kelompok kecil :
1) Memperjelas permasalahan
2) Menyebarkan kesempatan
berpartisipasi
3) Pemusatan perhatian
4) Menganalisa pandangan peserta didik
5) Meningkatkan urutan pikiran peserta
didik
6) Menutup diskusi
Hal-hal
yang harus dihindari dalam membimbing diskusi kelompok kecil :
1) Melaksanakan diskusi yang tidak
sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik
2) Tidak memberikan kesempatan yang
cukup kepada peserta didik untuk memikirkan pemecahan masalah
3) Membiarkan diskusi dikuasai oleh
peserta didik tertentu
4) Membiarkan peserta didik
mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan
5) Membiarkan peserta didik tidak aktif
6) Tidak merumuskan hasil diskusi dan
tiadak membentuk tindak lanjut[7]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses belajar dewasa ini menuntut seorang guru
memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut
menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan muridnya. Metode merupakan hal
yang lebih penting dari materi yang akan diajarkan. Metode adalah cara yang
paling tepat dan cepat, kata “cepat dan tepat disini sering diungkapkan dengan
ungkapan efektif dan efisien. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
memilih dan mengaplikasikan metode pengajaran:
1.
Tujuan yang
hendak dicapai
2.
Kemampuan guru
3.
Anak didik
4.
Situasi dan
kondisi pengajaran di mana berlangsung
5.
Fasilitas yang
tersedia
6.
Waktu yang
tersedia
7. Kebaikan dan kekurangan sebuah metode
Keterampilan dasar mengajar (teaching skills)
adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific
instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur
atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien
dan profesional. Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan
beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai
oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Keterampilan dasar
mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar karena dengan
keterampilan dasar mengajar dapat memberikan pengertian lebih dalam mengajar.
B.
Saran
Pemakalah menyadari dalam makalah
ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu pemakalah meminta
masukan pada Dosen Pembimbing dan teman-teman sekalian. Agar dilain waktu
pemakalah bisa membuat Makalah sebaik mungkin, atas perhtiannya Pemakalah
ucapkan Terima Kasih
DAFTAR
PUSTAKA
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi
Pendidikan Islam. Jakarta:
Ciputat Pers
Daradjat, Zakiah. 2004. Metodik
Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Melvin. L.
Silberman, 2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif , Bandung:
Nusamedia dan Nuansa, 2006
Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Usman,
Basyiruddin. 2002.
Metodologi
Pembelajaran Agama Islam. Jakarta :
Ciputat Pers
KRITERIA PEMILIHAN METODE DAN
KETERAMPILAN PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM

Oleh
Kelompok 8
Adelina Sari Pohan : 412.390
Rahmat Ilahi : 412.560
Dosen
Pembimbing:
Drs. Basyirudin Usman, M. Pd
Weti Susanti, S. Pd. I,
MA
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI-C)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1436 H/2014 M
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya, sehingga pemakalah dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah
ini dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca.
Harapan
pemakalah semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
bara pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik. Dalam Makalah ini pemakalah akui banyak
kekurangan, oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Padang, 29 September 2014
Pemakalah
|
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Proses belajar dewasa ini menuntut seorang guru
memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut
menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan muridnya. Metode merupakan hal
yang lebih penting dari materi yang akan diajarkan. Di sini seorang guru harus
memilih cara yang efektif dan efisien dalam mentransformasi dan mengembangkan
pengetahuan muridnya dan metode dalam pembelajaran agama Islam adalah cara yang
efektif dan efisien dalam mengajarkan agama Islam itu sendiri. Pengajaran yang
efektif artinya pengajaran yang dapat dipahami murid secara sempurna, dalam hal
ini ialah pengajaran yang berfungsi pada murid. “Berfungsi” artinya menjadi
milik murid, pengajaran itu membentuk dan mempengaruhi pribadinya. Adapun
pengajaran cepat adalah pengajaran yang tidak memerlukan waktu yang lama,
artinya pengajaran tersebut difasilitasi alat–alat pembelajaran yang dapat
mempermudah pemahaman murid terhadap materi yang diajarkan.
Agar metode yang digunakan terasa nyaman, menyenangkan
di dalam proses pembelajaran dan membuat para murid selalu bersemangat untuk
mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), seorang guru (PAI)
haruslah memiliki dasar-dasar pertimbangan sebelum menggunakan suatu metode.
Makalah ini membahas dasar-dasar pertimbangan ketika akan memilih suatu metode
di dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.
B. Batasan
Masalah
1.
Kriteria Pemilihan Metode dalam Pengajaran Agama Islam
2.
Keterampilan dalam
mengajar
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kriteria Pemilihan Metode dalam Pengajaran Agama Islam
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan seorang guru
di dalam menggunakan suatu metode pembelajaran, yaitu; tujuan, peserta didik,
bahan pelajaran, fasilitas, situasi, partisipasi, guru, kebaikan dan kelemahan metode
tertentu. Sama halnya dengan faktor di atas, Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar mengatakan
bahwa ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan mengaplikasikan
metode pengajaran:
1.
Tujuan yang
hendak dicapai [1]
Setiap orang yang mengerjakan sesuatu haruslah mengetahui
dengan jelas tentang tujuan yang hendak dicapainya. Demikian juga setiap
pendidik atau guru yang pekerjaan pokoknya mendidik dan mengajar harus mengerti
dengan jelas tentang tujuan pendidikan. pengertian akan tujuan pendidikan ini
mutlak perlu sebab tujuan itulah yang menjadi sasaran dan dan menjadi pengarah
daripada tindakan-tindakanya dalam menjalan fungsinya sebagai guru disamping
menjadi sasaran dan menjadi pengarah, tujuan pendidikan dan pengajaran juga
berfungsi sebagai pemilihan dan penentuan alat-alat (termasuk metode) yang
digunakan dalam mengajar.
2.
Peserta Didik.
Para peserta didik merupakan faktor yang tak kalah
penting yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam memilih metode mengajar. Ini
sebab metode mengajar itu ada yang menuntut pengetahuan dan kecekatan tertentu
misalnya; metode diskusi menuntut pengetahuan yang cukup banyak supaya pesarta
diskusi dapat mengetahui serta menilai benar atau salahnya suatu pendapat yang
dikemukakan peserta lain dan penguasaan bahasa serta keterampilan dalam mengemukakan
pendapat. Menurut Basyiruddin Usman, perbedaan karakteristik siswa dipengaruhi
oleh latar belakang kehidupan sosial ekonomi, budaya, tingkat kecerdasan, dan
watak mereka yang berlainan antara satu dengan yang lainnya, menjadi
pertimbangan guru dalam memilih metode apa yang baik digunakan.[2]
Semakin tinggi jenjang pendidikan peserta didik semakin
sederhana metode yang kita gunakan. Sebaliknya semakin rendah jenjang
pendidikan peserta didik semakin bervariasi metode yang digunakan. Untuk
pendidikan dasar lebih diutamakan metode yang melibatkan psikomotorik dan
afektif (seperti demonstrasi, simulasi, peragaan, kerja praktik dan
sejenisnya), sedangkan pada pendidikan tinggi lebih diutamakan metode yang
melibatkan aspek kognitif (diskusi, seminar, studi kasus, dll). Namun tidak
menutup kemungkinan setiap metode digunakan di semua jenjang pendidikan
3.
Bahan Pelajaran.
Bahan pelajaran yang menuntut kegiatan penyelidikan oleh
peserta didik hendaklah disajikan melalui metode unit/metode proyek. Apabila
bahan pelajaran mengandung problem-problem harus disajikan melalui
metode-metode pemecahan masalah. Bahan pelajaran yang berisi fakta-fakta dapat
disajikan misalnya melalui metode ceramah, sedangkan bahan pelajaran yang
terdiri dari latihan-latihan misalnya keterampilan–keterampilan disajika
melalui metode drill, dan sebagainya.
Jenis materi pelajaran (kognitif, psikomotorik, afektif),
setiap guru terlebih dahulu harus mengenali kecenderungan materi yang akan
diajarkan, metode materi yang cinderung dominan pada kognitif akan berbeda
dengan metode materi yang dominan pada psikomotorik dan afektif.
4.
Fasilitas
Yang termasuk dalam faktor fasilitas ini antara lain
adalah praga, ruang waktu, buku-buku, perpustakaan, kerapatan tempat dan
alat-alat praktikum, fasilitas ini turut menentukan metode mangajar yang akan
di pakai oleh guru. Pengaruh fasilitas dan pemilihan serta penentuan metode ini
ternyata dalam situasi di mana metode Demonstrasi dan Ekperimen tidak dapat
dipakai karena tidak tersedianya alat-alat dan bahan-bahan untuk mengadakan
demontrasi dan eksperimen /percobaan.
Dalam proses pembelajaran, lingkungan fisik dalam kelas
dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif. Di sini guru dapat
mengubah tata letak bangku dan meja agar proses pembelajaran lebih menyenangkan
dan menantang, suatu tata letak bangku yang beda dari biasanya akan akan
membantu siswa dalam mengingat materi yang diajarkan pada saat itu. Melvin L
Silberman memberikan beberapa contoh tata-letak kursi dan meja yang dapat
dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran aktif, seperti; bentuk U, gaya
tim, meja konferensi, lingkaran, kelompok pada kelompok, ruang kerja,
pengelompokan berpencar
formasi tanda
pangkat, ruang kelas tradisional dan auditorium.
Sekolah yang memiliki peralatan dan media yang lengkap,
gedung yang baik, dan sumber belajar yang memadai akan memudahkan guru dalam
memilih metode yang bervariasi.
5.
Situasi
Yang termasuk dalam situasi disini ialah keadaan peserta
didik (yang menyangkut kelelahan mereka, semangat mereka) keadaan cuaca,
keadaan guru, keadaan kelas yang berdekatan yang diberikan pelajaran dengan
metode tertentu.
Terdapat beberapa saran di dalam memperkaya situasi atau
lingkungan kelas, yaitu: 1. dengan memperkaya kelas dengan warna dan 2. Dengan
memberikan wangi-wangian/ aroma. Menurut Morton Walker dalm bukunya The
Power of Color (1991), menegaskan bahwa setiap warna memiliki panjang
gelombang, dari ultraviolet hingga inframerah (atau merah hingga biru) dapat
mempengaruhi tubuh dan otak kita secara berbeda. Contoh warna biru dapat
memberikan ketenangan, meningkatkan perasaan nyaman. Dan begitu juga dengan
aroma, Dave Maier mengatakan wewangian benar-benar dapat berpengaruh positif
pada pemrosesan mental, contohnya kayu manis dapat menambah kegembiraan dan
kebaikan. Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk menambah kenyamanan,
keasyikan belajar di dalam kelas maupun di luar kelas.
6.
Partisipasi
Paritsipasi adalah turut aktif dalam suatu kejadian.
Apabila guru ingin agar peserta didik turut aktif sama merata dalam suatu
kegiatan, guru tersebut tentunya akan menggunakan metode kerja
kelompok/demikian pula apabila peserta didik di kehendaki turut berpartisipasi
dalam suatu kegiatan ilmiah, misalnya mengumpulkan data yang kemudian disajikan
dalam pembahasan ilmiah maka tentunya guru akan menggunakan metode unit atau
metode seminar.
Dalam pembelajaran aktif partisipasi siswa sangat
diperlukan ada beberapa cara untuk menyusun diskusi dan mendapatkan respon dari
siswa pada saat kapan saja selama pelajaran, yaitu ; diskusi terbuka, kartu
jawaban, jejak-pendapat, diskusi sub kelompok, mitra belajar, penyemangat,
panel, ruang terbuka, permainan dan memanggil acara selanjutnya.
7.
Guru
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses
belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya
manusia yang potensial di bidang pembangunan. Di dalam metode mengajar, guru
dituntut untuk memenuhi syarat-syarat yang perlu dipenuhi misalnya tiap guru
yang akan menggunakan metode tertentu ia harus mengerti tentang metode tersebut
(misalnya jalannya pengajaran serta kebaikan dan kelemahannya, situasi-situasi
yang tepat dimana metode itu efektif dan wajar) dan terampil menggunakan metode
itu. Guru yang bahasanya kurang baik (kurang dapat berbahasa lisan dengan baik)
dan tidak bersemangat dalam berbicara kurang pada tempatnya apabila
mengguanakan metode ceramah. Guru yang tidak mengetahui seluk beluk tentang
metode proyek, tentang metode unit, tidak akan memili metode tersebut dalam
menyajikan bahan pelajaran.
Dari apa yang disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwa
pribadi, pengetahuan, dan kecekatan guru amat menentukan metode mengajar yang
akan di gunakan. Kemampuan dasar guru amat mempengaruhi proses belajar
mengajar.
8.
Kebaikan dan
Kelemahan
Tidak ada satu metode yang baik untuk setiap tujuan dalam
setiap situasi. Setiap metode mempunyai kelemahan. Guru perlu mengetahui kapan
suatu metode tepat di gunakan dan kapan harus digunakan dan kapan harus
digunakan kombinasi dari metode-metode. Guru hendaknya memilih metode yang
paling banyak mendatangkan hasil.[3]
B.
Beberapa Keterampilan dalam Mengajar
Guru merupakan
sosok yang digugu dan ditiru, begitulah falsafah yang sering kita dengar.
Program kelas tidak akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan.
Untuk itu, peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin
pendidikan diantara murid-murid suatu kelas. Secara etimologi atau dalam arti
sempit, guru yang berkewajiban mewujudkan suatu program kelas adalah orang yang
kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah atau kelas.
Secara lebih
luas, guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran
yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak untuk mencapai kedewasaan
masing-masing dalam berpikir dan bertindak. Guru dalam pengertian terakhir
bukan sekedar orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi
pengetahuan tertentu, akan tetapi adalah anggota masyarakat yang harus ikut
aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak
didik nya menuju sebuah cita-cita luhur mereka. Untuk mencapai hal tersebut
diatas maka dibutuhkan keterampilan-keterampilan dasar seorang guru dalam
mengajar.
8 Keterampilan
Dasar Mengajar yang Wajib Dikuasai Guru yaitu:
1.
Keterampilan Menjelaskan
Adalah suatu
keterampilan menyajikan bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis
sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga mudah dipahami para peserta
didik.[4]
Prinsip-prinsip
menjelaskan
a. Penjelasan harus disesuaikan dengan
kemampuan dan karakteristik peserta didik
b. Penjelasan harus diselingi tanya
jawab
c. Materi penjelasan harus dikuasai
secara baik oleh guru
d. Penjelasan harus sesuai dengan
tujuan pembelajaran
e. Materi penjelasan harus bermanfaat
dan bermakna bagi peserta didik
f. Dapat menjelaskan harus disertai
dengan contoh-contoh yang kongkrit dan dihubungkan
dengan kehidupan
2.
Keterampilan Menggunakan Variasi
a.
Pengertian penggunaan variasi merupakan keterampilan guru
dalam menggunakan bermacam kemampuan untuk mewujudkan tujuan belajar peserta
didik sekaligus mengatasi kebosanan dan menimbulkan minat, gairah dan aktivitas
belajar mengajar yang efektif.
b.
Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar
adalah untuk :
1) Menghilangkan kejemuan dalam
mengikuti proses belajar
2) Mempertahankan kondisi optimal
belajar
3) Meningkatkan perhatian dan motivasi
peserta didik
4) Memudahkan pencapaian tujuan
pengajaran
Prinsip-prinsip penggunaan variasi
dalam pengajaran
1) Gunakan variasi dengan wajar, jangan
dibuat-buat
2) Perubahan satu jenis variasi ke
variasi lainnya harus efektif
3) Penggunaan variasi harus direncakan
dan sesuai dengan bahan, metode, dan karakteristik peserta didik[5]
3.
Keterampilan Memberi Penguatan
a.
Memberi penguatan atau reincorcement merupakan tindakan atau
respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya
peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain.
b. Tujuan menggunakan keterampilan
memberi penguatan dalam pengajaran untuk :
1) Menimbulkan perhatian peserta didik
2) Membangkitkan motivasi belajar
peserta didik
3) Menumbuhkan kemampuan berinisiatif
secara pribadi
4) Merangsang peserta didik berfikir
yang baik
5) Mengembalikan dan mengubah sikap
negatif peserta dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar
Prinsip-prinsip penguatan
1) Dilakukan dengan hangat dan semangat
2) Memberikan kesan positif kepada
peserta didik
4.
Keterampilan Membuka dan Menutup
Pelajaran
Keterampilan
membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik
agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran peserta didik
harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan
ditempuh.
Keterampilan
menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam mengakhiri kegitan inti
pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran,
mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guna dalam
proses belajar mengajar.
Tujuan
membuka dan menutup pelajaran adalah :
a. Untuk menimbulkan minat dan
perhatian peserta didik terhadap pelajaran yang akan dibicarakan
b. Menyiapkan mental para peserta didik
agar siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan
c. Memungkinkan peserta didik
mengetahui tingkat keberhasailan dalam pelajaran
d. Agar peserta didik mengetahui
batas-batas tugasnya yang akan dikerjakan
Prinsip-prinsip membuka dan menutup
pelajaran
Dalam
membuka pelajaran harus memberi makna kepada peserta didik, yaitu dengan
menggunakan cara-cara yang relevan dengan tujuan dan bahan yang akan
disampaikan
5.
Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil
dan Perseorangan
Keterampilan
mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru melayani kegiatan peserta didik
dalam belajar secara kelompok dengan jumlah peserta didik berkisar antara 3
hingga 5 orang atau paling banyak 8 orang untuk setiap kelompoknya.
Sedangkan
keterampilan dalam pengajaran perorangan atau pengajaran individual adalah
kemampuan guru dalam mennetukan tujuan, bahan ajar, prosedur dan waktu yang
digunakan dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau
perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
Tujuan
guru mengembangkan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah :
a. Keterampilan dalam pendekatan
pribadi
b. Keterampilan dalam mengorganisasi
c. Keterampilan dalam membimbing
belajar
d. Keterampilan dalam merencakan dan
melaksanakan KBM[6]
6.
Keterampilan Mengelola Kelas
Keterampilan
mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam mewujudkan dan mempertahankan
suasana belajar mengajar yang optimal Tujuan dari pengelolaan kelas adalah :
a. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas
yang memungkinkan peserta didik memgembangkan kemampuannya secara optimal
b. Menghilangkan berbagai hambatan dan
pelanggaran disipilin yang dapat merintangi terwujudnya interaksi belajar
mengajar
c. Mempertahankan keadaan yang stabil
dalam susana kelas, sahingga bila terjadi gangguan dalam belajar mengajar dapat
dikurangi dan dihindari
d. Melayani dan membimbing perbedaan
individual peserta didik
e. Mengatur semua perlengkapan dan
peralatan yang memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan
sosial, emosional dan intelektual peserta didik dalam kelas.
Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas
a. Keluwesan, digunakan apabila guru
mendapatkan hambatan dalam perilaku peserta didik, sehingga guru dapat merubah
strategi mengajarnya
b. Kehangatan dan keantusiasan
c. Bervariasi, gunakan variasi dalam
proses belajar mengajar
d. Tantangan, gunakan kata-kata,
tindakan atau bahan sajian yang menantang
e. Tanamkan displin diri, selalu
mendorong peserta didik agar memiliki disipin diri
f. Menekankan hal-hal positif,
memikirkan hal positif dan menghindarkan konsentrasi pada hal negatif
Komponen Keterampilan Pengelolaan
Kelas
a. Keterampilan yang bersifat preventif
guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara :
1) Memusatkan perhatian
2) Menunjukkan sikap tanggap
3) Menegur
4) Membagi perhatian
5) Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
6) Memberi penguatan
b. Keterampilan megelola kelas yang
bersifat represif, guru dapat menggunakan keterampilan dengan cara :
1) Pengelolaan kelompok
2) Modifikasi tingkah laku
3) Menemukan dan memecahkan tingkah
laku yang menimbulkan masalah
Hal-hal
yang harus dihindari dalam mengembangkan keterampilan mengelola kelas :
1) Ketidaktepatan memulai dan
mengakhiri kegiatan
2) Pengulangan penjelasan yang tidak
perlu
3) Penyimpangan
4) Kesenyapan
5) Bertele-tele
7.
Keterampilan membimbing Diskusi
Kelompok kecil
a. Diskusi kelompok kecil adalah suatu
proses belajar yang dilakukan dalam kerja sama kelompok bertujuan memecahkan
suatu permasalahan, mengkaji konsep, prinsip atau kelompok tertentu.
b. Prinsip-prinsip membimbing diskusi
kelompok kecil :
1) Laksanakan diskusi dalam suasana
yang menyenangkan
2) Berikan waktu yang cukup untuk
merumuskan dan menjawab permasalahan
3) Rencanakan diskusi kelompok dengan
sistematis
4) Bimbinglah dan jadikanlah diri guru
sebagai teman dalam diskusi
Komponen
keterampilan guru dalam megembangkan pembimbingan kelompok kecil :
1) Memperjelas permasalahan
2) Menyebarkan kesempatan
berpartisipasi
3) Pemusatan perhatian
4) Menganalisa pandangan peserta didik
5) Meningkatkan urutan pikiran peserta
didik
6) Menutup diskusi
Hal-hal
yang harus dihindari dalam membimbing diskusi kelompok kecil :
1) Melaksanakan diskusi yang tidak
sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik
2) Tidak memberikan kesempatan yang
cukup kepada peserta didik untuk memikirkan pemecahan masalah
3) Membiarkan diskusi dikuasai oleh
peserta didik tertentu
4) Membiarkan peserta didik
mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan
5) Membiarkan peserta didik tidak aktif
6) Tidak merumuskan hasil diskusi dan
tiadak membentuk tindak lanjut[7]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses belajar dewasa ini menuntut seorang guru
memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut
menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan muridnya. Metode merupakan hal
yang lebih penting dari materi yang akan diajarkan. Metode adalah cara yang
paling tepat dan cepat, kata “cepat dan tepat disini sering diungkapkan dengan
ungkapan efektif dan efisien. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
memilih dan mengaplikasikan metode pengajaran:
1.
Tujuan yang
hendak dicapai
2.
Kemampuan guru
3.
Anak didik
4.
Situasi dan
kondisi pengajaran di mana berlangsung
5.
Fasilitas yang
tersedia
6.
Waktu yang
tersedia
7. Kebaikan dan kekurangan sebuah metode
Keterampilan dasar mengajar (teaching skills)
adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific
instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur
atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien
dan profesional. Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan
beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai
oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Keterampilan dasar
mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar karena dengan
keterampilan dasar mengajar dapat memberikan pengertian lebih dalam mengajar.
B.
Saran
Pemakalah menyadari dalam makalah
ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu pemakalah meminta
masukan pada Dosen Pembimbing dan teman-teman sekalian. Agar dilain waktu
pemakalah bisa membuat Makalah sebaik mungkin, atas perhtiannya Pemakalah
ucapkan Terima Kasih
DAFTAR
PUSTAKA
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi
Pendidikan Islam. Jakarta:
Ciputat Pers
Daradjat, Zakiah. 2004. Metodik
Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Melvin. L.
Silberman, 2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif , Bandung:
Nusamedia dan Nuansa, 2006
Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Usman,
Basyiruddin. 2002.
Metodologi
Pembelajaran Agama Islam. Jakarta :
Ciputat Pers